Selasa, 31 Januari 2012

eeeeeeeeeeeeeeeeh wew

Arti Sebuah Kecantikan

Beauty is in the eye of beholder Beauty is also born from the heartThe real beauty is inner beauty And the perpect beauty is shalihat
Siapa sih yang nggak mau dibilang cantik atau ganteng? Semua memuja keindahan dan kecantikan. Cantik bisa dilihat dari berbagai sisi, tergantung sudut pandang orang menilai kecantikan. Penggalan kalimat yang sedikit filosofis di atas mungkin terdengar agak basi, apalagi bagi kaum Hawa yang cenderung lebih mengutamakan tampilan kemasan. Eits, jangan sensi dulu! Cantik secara fisik juga perlu, tapi cantik batiniah dan perilaku juga wajib. Makanya ada konsep 3B (tambah imtaq lebih mantap!). gimana sih konsep cantik yang shalihah itu?
Sejak manusia dilahirkan, nilai keindahan dan kecantikan menjadi sesuatu yang dipuja. Qobil dan Khobil saja bertengkar karena menyukai kecantikan perempuan. Konon, Cleopatra, Nefertiti, Monalisa, Lady Diana bahkan aktris sekaliber Angelina Jolie pun dipuja dan diperebutkan karena kecantikannya. Wajar sih kalau kita mengagumi kecantikan dan ketampanan makhluk, karena semua itu anugerah dari Yang Maha Sempurna. Akan tetapi, kita perlu menilai cantik itu dari berbagai sisi terbaik dan kebenaran hakiki, bukan sekedar dorongan hasrat. Cantik sering diidentikkan dengan kebagusan fisik : tinggi semampai, kulit putih, rambut lurus., dan lain-lain yang menimbulkan rasa tidak PD pada remaja atau orang yang tidak memiliki kriteria itu. Duh, sempit amat dunia kalau seperti itu.
Beberapa tahun terakhir, negara-negara kapitalis mematok kriteria cantik berdasarkan 3B (Brain, Behavior, Beauty). Negara kita juga ikut mengadopsi konsep itu, khususnya untuk menilai kecantikan pada ajang kontes kecantikan. Secara tidak langsung, konsep cantik itu banyak mengeksploitasi jasmani si peserta karena yang ditonjolkan tetap saja unsur beauty-nya. Seperti itukah definisi cantik yang “menjanjikan segala kebahagian”?.
Kecantikan bergantung kepada siapa yang melihat dan menilai. Dalam hal ini unsur rasa turut menentukan, sehingga sering dikatakan bahwa cantik atau ganteng itu relatif. Pada zaman Kaisar Romawi, gambaran fisik kecantikan perempuan ialah bertubuh gendut dan subur. Wanita kurus dan langsing dianggap kurang gizi dan lemah. Ini menunjukkan bahwa pada masa itu, kekuatan menjadi unsur utama penilaian cantik. Hingga akhirnya, perkembangan zaman menorehkan sejarah pergeseran kriteria kecantikan fisik seperti sekarang.
Remaja muslim, pernahkah kita menyadari bahwa kita sering dininabobokan produk-produk iklan tertentu untuk memenuhi kriteria cantik? Berkorban banyak materi karena mendamba kecantikan fisik semata. Pandangan seperti ini bisa menghambat daya pikir kreatif dan positif kita, lupa memperbaiki akhlak, lalai meng-upgrade pemikiran dan keimanan. Wajar saja kalau remaja kita semakin lemah dan tertinggal karena pola pikirnya tidak seimbang. Jika kita mau berpikir lebih peka dan benar, kecantikan fisik itu hanya sementara. Perlahan tapi pasti, semua itu akan lekang dimakan usia. Mempercantik fisik memang tidak ada salahnya, asal tujuannya benar, misalnya demi kesehatan dan kenyamanan ibadah. Namun, jika menjadi korban kriteria cantik secara fisik, nggak zaman dech..
Harus kita waspadai bahwa kecantikan fisik tidak selalu berbanding lurus dengan kecantikan akhlak, kecerdasan emosional, intelektual dan spiritual. Kecantikan yang menyeluruh itu ialah yang bisa memadukan perbuatan, perkataan dan perasaan yang shalih dan shalihah. Dalam buku curhatnya, mantan Puteri Indonesia Angelina F. Sondakh mengeluhkan beberapa kegiatannya yang kebanyakan berhubungan dengan demo kecantikan fisik atau seminar seputar kecantikan selama menjadi Puteri Indonesia 2001. Ia mengaku jenuh karena sisi brain dan behavior-nya kurang tergali dan termanfaatkan untuk kepentingan bangsa. Padahal, kecantikan fisik bukan modal utama, inner beauty-lah yang membuat perempuan terlihat sempurna.
Konsep Cantik yang IslamiDari pendapat di atas, kita dapat memetik sebuah pelajaran bahwa eksploitasi kecantikan fisik pada akhirnya menimbulkan kontroversi pada pribadi seseorang dan lingkungan sosialnya. Misalnya, ketika Indonesia mengirimkan duta untuk kontes Miss Universe, banyak kalangan agamawan dan budayawan yang menentang. Sayangnya, kepentingan politis dan ekonomi selalu mengalahkan nilai-nilai religi, moral dan budaya kebenaran. Pada akhirnya, kecantikan dari dalam diri lah yang menjadi sumber kebahagiaan dan kemanfaatan.
Sebagai remaja muslim, kita harus senantiasa mempersiapkan jiwa dan raga untuk menggapai cantik yang sesungguhnya. Kecantikan sejati lahir secara alami, bukan polesan kosmetik belaka. Remaja muslim yang cantik ialah yang berisi luar dan dalam. Berakhlak baik, cerdas dan tanggap terhadap diri dan lingkungan, serta memiliki keimanan yang mantap. Seseorang akan terlihat cantik bila kita merasa nyaman dan damai berada di dekatnya.
Ada beberapa ciri atau kriteria cantik yang shalih dan shalihah yang dapat kita realisasikan, di antaranya :Kulitnya dilindungi jlbab, berpakaian bersih, pas dan rapiSehat jasmani dan rohaninya, yang tercermin dari gerak tubuh dan sikapnya yang luwes dan terampilMampu menjaga pandangan karena ketakwaannyaSenantiasa menyuarakan dzikrullahSelalu tersenyum ramah dan tulusSenantiasa mengejar dan belajar ilmu kebaikan dan dakwah di majlis-majelis keilmuanMenebar cinta kepada sesama dalam jalinan ukhuwahTidak mengutamakan kepentingan materi atau dunia semataBirrul walidain (berbuat baik kepada kedua orang tua)
Kriteria di atas, mungkin hanya sebagaian yang terangkum dari sekian banyak kecantikan yang shalihah. Remaja muslim seperti itu akan terasa sejuk dipandang mata. Terasa nyaman dan ada keinginan untuk berintrospeksi setiap kali di dekatnya karena sikap, sifat dan perkatannya selalu penuh keteladanan. Inner beauty sejati ialah keshalihan.
Landasan KecantikanApa sih yang jadi landasan kecantikan sejati. Jelas Islam dong! Segala aturan dalam Islam sudah seimbang, pas, dan klop dengan kebutuhan dan fitrah kemanusiaan, laki-laki maupun perempuan. Misalnya, kewajiban menutup aurat, selain sebagai perintah agama , manfaatnya ditujukan untuk menjaga kehormatan. Semua sesuai dengan kapasitas dan posisinya sebagai hamba Alloh SWT. Yang harus kita lakukan ialah belajar menyadari, menikmati dan mensyukuri, serta menjaga anugerah Yang Maha Bijaksana.
Jadi girls, 3B itu memang konsep kecantikan yang lengkap dan harus disempurnakan dengan landasan IMTAQ, agar kita nggak salah lagi menafsirkan dan merealisasikan konsep kecantikan sejati.
Sebagai remaja muslimah, kita tak secantik Julaikha, tak sesuci Maryam, tak secerdas Aisyah, tak setabah Fatimah, apalagi setakwa Khadijah yang selalu setia dalam sengsara. Kita hanyalah perempuan akhir zaman yang senantiasa berupaya menjadi shalihah demi membangun keturunan yang shalih dan shalihah.

wawwwwwwwww


Islam Kok Pacaran

Soal pacaran di zaman sekarang tampaknya menjadi gejala umum di kalangan kawula muda. Barangkali fenomena ini sebagai akibat dari pengaruh kisah-kisah percintaan dalam roman, novel, film dan syair lagu. Sehingga terkesan bahwa hidup di masa remaja memang harus ditaburi dengan bunga-bunga percintaan, kisah-kisah asmara, harus ada pasangan tetap sebagai tempat untuk bertukar cerita dan berbagi rasa.
Selama ini tempaknya belum ada pengertian baku tentang pacaran. Namun setidak-tidaknya di dalamnya akan ada suatu bentuk pergaulan antara laki-laki dan wanita tanpa nikah.
Kalau ditinjau lebih jauh sebenarnya pacaran menjadi bagian dari kultur Barat. Sebab biasanya masyarakat Barat mensahkan adanya fase-fase hubungan hetero seksual dalam kehidupan manusia sebelum menikah seperti puppy love (cinta monyet), datang (kencan), going steady (pacaran), dan engagement (tunangan).
Bagaimanapun mereka yang berpacaran, jika kebebasan seksual da lam pacaran diartikan sebagai hubungan suami-istri, maka dengan tegas mereka menolak. Namun, tidaklah demikian jika diartikan sebagai ungkapan rasa kasih sayang dan cinta, sebagai alat untuk memilih pasangan hidup. Akan tetapi kenyataannya, orang berpacaran akan sulit segi mudharatnya ketimbang maslahatnya. Satu contoh : orang berpacaran cenderung mengenang dianya. Waktu luangnya (misalnya bagi mahasiswa) banyak terisi hal-hal semacam melamun atau berfantasi. Amanah untuk belajar terkurangi atau bahkan terbengkalai. Biasanya mahasiswa masih mendapat kiriman dari orang tua. Apakah uang kiriman untuk hidup dan membeli buku tidak terserap untuk pacaran itu ?
Atas dasar itulah ulama memandang, bahwa pacaran model begini adalah kedhaliman atas amanah orang tua. Secara sosio kultural di kalangan masyarakat agamis, pacaran akan mengundang fitnah, bahkan tergolong naif. Mau tidak mau, orang yang berpacaran sedikit demi sedikit akan terkikis peresapan ke-Islam-an dalam hatinya, bahkan bisa mengakibatkan kehancuran moral dan akhlak. Na’udzubillah min dzalik !
Sudah banyak gambaran kehancuran moral akibat pacaran, atau pergaulan bebas yang telah terjadi akibat science dan peradaban modern (westernisasi). Islam sendiri sebagai penyempurnaan dien-dien tidak kalah canggihnya memberi penjelasan mengenai berpacaran. Pacaran menurut Islam diidentikkan sebagai apa yang dilontarkan Rasulullah SAW : "Apabila seorang di antara kamu meminang seorang wanita, andaikata dia dapat melihat wanita yang akan dipinangnya, maka lihatlah." (HR Ahmad dan Abu Daud).
Namun Islam juga, jelas-jelas menyatakan bahwa berpacaran bukan jalan yang diridhai Allah, karena banyak segi mudharatnya. Setiap orang yang berpacaran cenderung untuk bertemu, duduk, pergi bergaul berdua. Ini jelas pelanggaran syari’at ! Terhadap larangan melihat atau bergaul bukan muhrim atau bukan istrinya. Sebagaimana yang tercantum dalam HR Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas yang artinya: "Janganlah salah seorang di antara kamu bersepi-sepi (berkhalwat) dengan seorang wanita, kecuali bersama dengan muhrimnya." Tabrani dan Al-Hakim dari Hudzaifah juga meriwayatkan dalam hadits yang lain: "Lirikan mata merupakan anak panah yang beracun dari setan, barang siapa meninggalkan karena takut kepada-Ku, maka Aku akan menggantikannya dengan iman sempurna hingga ia dapat merasakan arti kemanisannya dalam hati."
Tapi mungkin juga ada di antara mereka yang mencoba "berdalih" dengan mengemukakan argumen berdasar kepada sebuah hadits Nabi SAW yang diriwayatkan Imam Abu Daud berikut : "Barang siapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, atawa memberi karena Allah, dan tidak mau memberi karena Allah, maka sungguh orang itu telah menyempurnakan imannya." Tarohlah mereka itu adalah orang-orang yang mempunyai tali iman yang kokoh, yang nggak bakalan terjerumus (terlalu) jauh dalam mengarungi "dunia berpacaran" mereka. Tapi kita juga berhak bertanya : sejauh manakah mereka dapat mengendalikan kemudi "perahu pacaran" itu ? Dan jika kita kembalikan lagi kepada hadits yang telah mereka kemukakan itu, bahwa barang siapa yang mencintai karena Allah adalah salah satu aspek penyempurna keimanan seseorang, lalu benarkah mereka itu mencintai satu sama lainnya benar-benar karena Allah ? Dan bagaimana mereka merealisasikan "mencintai karena Allah" tersebut ? Kalau (misalnya) ada acara bonceng-boncengan, dua-duaan, atau bahkan sampai buka aurat (dalam arti semestinya selain wajah dan dua tapak tangan) bagi si cewek, atau yang lain-lainnya, apakah itu bisa dikategorikan sebagai "mencintai karena Allah ?" Jawabnya jelas tidak !
Dalam kaitan ini peran orang tua sangat penting dalam mengawasi pergaulan anak-anaknya terutama yang lebih menjurus kepada pergaulan dengan lain jenis. Adalah suatu keteledoran jika orang tua membiarkan anak-anaknya bergaul bebas dengan bukan muhrimnya. Oleh karena itu sikap yang bijak bagi orang tua kalau melihat anaknya sudah saatnya untuk menikah, adalah segera saja laksanakan.

Artikel II
Pacaran dalam Islam
Gimana sich sebenernya pacaran itu, enak ngga' ya? Bahaya ngga' ya ? Apa bener pacaran itu harus kita lakukan kalo mo nyari pasangan hidup kita ? Apa memang bener ada pacaran yang Islami itu, dan bagaimana kita menyikapi hal itu?
Memiliki rasa cinta adalah fitrah
Ketika hati udah terkena panah asmara, terjangkit virus cinta, akibatnya...... dahsyat man...... yang diinget cuma si dia, pengen selalu berdua, akan makan inget si dia, waktu tidur mimpi si dia. Bahkan orang yang lagi fall in love itu rela ngorbanin apa aja demi cinta, rela ngelakuin apa aja demi cinta, semua dilakukan agar si dia tambah cinta. Sampe' akhirnya....... pacaran yuk. Cinta pun tambah terpupuk, hati penuh dengan bunga. Yang gawat lagi, karena pengen bukti'in cinta, bisa buat perut buncit (hamil). Karena cinta diputusin bisa minum baygon. Karena cinta ditolak .... dukun pun ikut bertindak.
Sebenarnya manusia secara fitrah diberi potensi kehidupan yang sama, dimana potensi itu yang kemudian selalu mendorong manusia melakukan kegiatan dan menuntut pemuasan. Potensi ini sendiri bisa kita kenal dalam dua bentuk. Pertama, yang menuntut adanya pemenuhan yang sifatnya pasti, kalo ngga' terpenuhi manusia bakalan binasa. Inilah yang disebut kebutuhan jasmani (haajatul 'udwiyah), seperti kebutuhan makan, minum, tidur, bernafas, buang hajat de el el. Kedua, yang menuntut adanya pemenuhan aja, tapi kalo' kagak terpenuhi manusia ngga' bakalan mati, cuman bakal gelisah (ngga' tenang) sampe' terpenuhinya tuntutan tersebut, yang disebut naluri atau keinginan (gharizah). Kemudian naluri ini di bagi menjadi 3 macam yang penting yaitu :
Gharizatul baqa' (naluri untuk mempertahankan diri) misalnya rasa takut, cinta harta, cinta pada kedudukan, pengen diakui, de el el.
Gharizatut tadayyun (naluri untuk mensucikan sesuatu/ naluri beragama) yaitu kecenderungan manusia untuk melakukan penyembahan/ beragama kepada sesuatu yang layak untuk disembah.
Gharizatun nau' (naluri untuk mengembangkan dan melestarikan jenisnya) manivestasinya bisa berupa rasa sayang kita kepada ibu, temen, sodara, kebutuhan untuk disayangi dan menyayangi kepada lawan jenis.
Pacaran dalam perspektif islam
In fact, pacaran merupakan wadah antara dua insan yang kasmaran, dimana sering cubit-cubitan, pandang-pandangan, pegang-pegangan, raba-rabaan sampai pergaulan ilegal (seks). Islam sudah jelas menyatakan: "Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk." (Q. S. Al Isra' : 32)
Seringkali sewaktu lagi pacaran banyak aktivitas laen yang hukumnya wajib maupun sunnah jadi terlupakan. Sampe-sampe sewaktu sholat sempat teringat si do'i. Pokoknya aktivitas pacaran itu dekat banget dengan zina. So....kesimpulannya PACARAN ITU HARAM HUKUMNYA, and kagak ada legitimasi Islam buatnya, adapun beribu atau berjuta alasan tetep aja pacaran itu haram.

Adapun resep nabi yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas'ud: "Wahai generasi muda, barang siapa di antara kalian telah mampu seta berkeinginan menikah. Karena sesungguhnya pernikahan itu dapat menundukkan pandangan mata dan memelihara kemaluan. Dan barang siapa diantara kalian belum mampu, maka hendaklah berpuasa, karena puasa itu dapat menjadi penghalang untuk melawan gejolak nafsu."
(HR. Bukhari, Muslim, Ibnu Majjah, dan Tirmidzi).
Jangan suka mojok atau berduaan ditempat yang sepi, karena yang ketiga adalah syaiton. Seperti sabda nabi: "Janganlah seorang laki-laki dan wanita berkhalwat (berduaan di tempat sepi), sebab syaiton menemaninya, janganlah salah seorang dari kalian berkhalwat dengan wanita, kecuali disertai dengan mahramnya." (HR. Imam Bukhari Muslim).
Dan untuk para muslimah jangan lupa untuk menutup aurotnya agar tidak merangsang para lelaki. Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya." (Q. S. An Nuur : 31).
Dan juga sabda Nabi: "Hendaklah kita benar-benar memejakamkan mata dan memelihara kemaluan, atau benar-benar Allah akan menutup rapat matamu."(HR. Thabrany).
Yang perlu di ingat bahwa jodoh merupakan QADLA' (ketentuan) Allah, dimana manusia ngga' punya andil nentuin sama sekali, manusia cuman dapat berusaha mencari jodoh yang baik menurut Islam. Tercantum dalam Al Qur'an: "Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)."
Wallahu A'lam bish-Showab
Oleh: Buletin Dakwah Remas RIHLAH SMU N I Sooko, edisi 6, 1421 H
Disalin dari Lembar Buletin Dakwah BINTANG (2)
Dikutip dari http://www.alislam.or.id/artikel/arsip/00000028.html

Selasa, 03 Januari 2012

konsekuensi ku

capek , lelah ,penat, bosan........... begitu bnyk skali tugas yang bertebaran dalam benak ku,, ya inila resiko nyaa :) SEMANGAT karena ALLAH